Demo berbuntut anarkis mahasiswa dan aparat

Berita yang muncul di televisi kemarin tentang bentrokan mahasiswa dan aparat kepolisian pasti bikin kita bertanya-tanya kenapa bisa sampai terjadi. Saya pikir hal ini wajar di pertanyakan, karena setelah kasus demo BBM sebelum pecahnya insiden monas sepertinya demo BBM sudah mereda. Tapi tanyangan di tivi-tivi benar-benar membuat kaget.

Demo mahasiswa besar-besaran menentang kenaikan harga BBM kembali terjadi di depan gedung MPR DPR. Ratusan mahasiswa dari berbagai kalangan kampus menyerbu gedung MPR DPR ibukota. Satu hal yang pasti terbayang dalam benak kita, bentrok dan kemacetan! Bagaimana tidak, dalm aksinya mahasiswa memblokir ruas jalan Sudirman dari Bunderan Hotel Indonesia menju Blok M. Mahasiswa juga melempari polisi dengan batu dan merusak pintu pagar kebanggaan gedung MPR DPR, tetapi aparat polisi sudah siap dengan water cannon-nya.Bahkan sebuah mobil Avanza milik salah satu instansi pemerintah yang berplat merah ikut menjadi sasaran emosi mahasiswa di jalan Semanggi, depan kampus Unika Atmajaya. Mobil itu akhirnya menjadi rongsokan besi terbakar.Belum jelas instansi pemerintah bagian apa yang mobilnya dibakar itu.

Aparat kepolisian yang diturunkan berkekuatan yang cukup besar untuk menghalau demo mahasiswa tersebut. Di samping itu, polisi di turunkan utk mengamankan sidang paripurna para anggota-anggota DPR yang saat itu juga berlangsung utk membahas hak angket para anggota tentang kenaikan BBM. Bagaimana hasil rapat itu masih belum bisa dipastikan.

Melihat aksi anarkis ini, sangat di sayangkan kenapa bisa sampai terjadi. Mahasiswa yang menjadi penerus pembangunan bangsa dan intelektual bangsa mempunyai emosi yang begitu meluap-luap. Pengertian tentang demokrasi pun menjadi terlalu melenceng dari sekedar menyampaikan aspirasi rakyat.

Apakah aspirasi harus di sampaikan dengan emosi dan pertikaian? Apakah aspirasi harus di sampaikan dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan orang lain di saat itu juga? Bukankah aspirasi itu bisa disampaikan dengan kepala yang dingin dan duduk yang manis? Bagaimanapun juga kita adalah satu bangsa. Kita adalah satu saudara yang harus saling mendukung dan bukan saling menghancurkan.

Segala kebijakan yang di ambil pemerintah pasti mempunyai dasar dan pertimbangan yang matang. Dampaknya mungkin sangat besar, tapi mungkin jalan itulah yang menjadi jalan terakhir yang harus diambil untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi.

Demo menentang kebijakan kenaikan harga BBM mempunyai dasar membela kepentingan dan hak rakyat. Di sisi lain, kepentingan rakyat saat itu juga menjadi di korbankan. Masyarakat yang mencari nafkah bekerja menjadi terhambat karena kemacetan. Korban-korban pertikaian harus mengeluarkan biaya utk pengobatan. Pemerintah kembali mengeluarkan biaya utk memperbaiki sarana yang di rusak. Perkuliahan mahasiswa otomatis terganggu ketika mereka beramai-ramai turun ke jalan. Dibalik itu semua, manakah yang lebih banyak di untungkan?

Topik demo menentang kenaikan harga BBM pun melenceng dari wacana. Entah siapa di balik insiden ini, tapi sepertinya antara mahasiswa dan polisi sudah tidak bisa akur lagi.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment